
Lampungjaya.news, Tubaba – Polemik keberadaan tempat hiburan malam Diva Karaoke Family di Tiyuh Marga Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Udik, kembali mencuat. Tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), serta aparat keamanan turun langsung melakukan monitoring menyusul keluhan warga yang terus bergulir. Rabu, (08/04/2026),
Kehadiran tim tersebut diharapkan mampu meredakan ketegangan sekaligus memberikan kepastian hukum atas operasional tempat hiburan itu. Namun di lapangan, sebagian warga menilai langkah tersebut belum menjawab tuntutan utama mereka: ketegasan pemerintah dalam menindaklanjuti keberatan masyarakat.
Kepala Bidang PTSP, Samsudin, menyampaikan bahwa monitoring dilakukan sebagai respons atas laporan masyarakat yang bahkan telah sampai ke pimpinan daerah. Menurutnya, persoalan ini tidak semata terkait administrasi perizinan, tetapi juga menyangkut kenyamanan dan ketertiban lingkungan.
“Aspirasi masyarakat sudah disampaikan, termasuk dalam bentuk pernyataan tertulis,” ujar Samsudin.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan penutupan usaha tidak bisa diambil sepihak oleh instansinya. Proses tersebut, kata dia, harus melibatkan pemerintah tiyuh dan masyarakat setempat.
“Perlu ada kesepakatan bersama. Kami mendorong komunikasi antar pihak agar persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik,” tambahnya.
Di sisi lain, Kepala Tiyuh Marga Kencana, Supriyadi, S.Sos, mengaku belum memantau secara menyeluruh kondisi terbaru di lokasi. Ia menyebut terakhir kali turun langsung saat kegiatan sebelumnya dan monitoring malam itu.
“Saya belum mengetahui secara pasti kondisi terkini, termasuk terkait kebisingan,” katanya.
Ia juga mengungkap adanya informasi mengenai pergantian pengelola Diva Karaoke Family, meski hingga kini belum ada penjelasan resmi yang disampaikan kepada pemerintah tiyuh. Hal ini memicu kekhawatiran warga terkait kejelasan tanggung jawab pengelola dan kesesuaian izin usaha.
Sejumlah warga tetap menyuarakan penolakan terhadap operasional karaoke tersebut. Aktivitas yang berlangsung hingga larut malam dinilai mengganggu ketenangan lingkungan.
“Kami berharap ada solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah, bukan hanya sementara,” ungkap salah satu warga.
Sebagai langkah awal, tim gabungan menyarankan penghentian operasional sementara guna menghindari potensi gesekan di masyarakat. Keputusan lanjutan akan ditentukan setelah adanya pembahasan lebih mendalam antara pihak terkait.
Pemerintah daerah juga membuka opsi perbaikan teknis, seperti penanganan kebocoran suara. Namun jika keberatan warga terus berlanjut, evaluasi lebih lanjut—termasuk kemungkinan relokasi atau penutupan permanen—tidak menutup kemungkinan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak pengelola Diva Karaoke Family belum memberikan keterangan resmi. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret agar polemik ini tidak berlarut-larut dan memicu dampak sosial yang lebih luas. (Spr/jhn)


