
Lampungjaya.news, Tubaba – Menjelang 1 Ramadhan 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, nuansa religius mulai terasa di berbagai penjuru daerah. Dari lingkungan kampung hingga pusat pemerintahan, semangat menyambut bulan suci kian menguat, tidak hanya sebagai tradisi tahunan, tetapi juga sebagai momentum refleksi diri.
Di tengah suasana tersebut, Gabungan Wartawan Indonesia Kabupaten Tulang Bawang Barat (GWI Tubaba) menyerukan ajakan moral kepada seluruh insan pers untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik dalam memperkuat integritas dan solidaritas profesi.
Ketua GWI Tubaba, Nurul Huda, menegaskan bahwa Ramadhan tidak semestinya dimaknai sekadar rutinitas tahunan yang identik dengan ucapan dan spanduk penyambutan. Lebih dari itu, bulan suci merupakan ruang evaluasi, baik secara spiritual maupun profesional.
“Kami KSB, anggota, pimpinan redaksi, kepala biro, dan seluruh wartawan GWI Tubaba mengucapkan selamat datang bulan suci Ramadhan. Mari kita sambut dengan hati yang bersih dan niat yang tulus,” ujarnya, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, dunia jurnalistik saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Arus informasi bergerak cepat, opini kerap dikemas menyerupai fakta, serta tekanan kepentingan acap kali menguji independensi media. Dalam situasi tersebut, Ramadhan dinilai menjadi momentum tepat untuk melakukan pembenahan.
Nurul menekankan bahwa makna menahan diri selama Ramadhan tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan diri dari menyajikan pemberitaan yang belum terverifikasi, sensasional, atau berpotensi memecah belah masyarakat.
“Insan pers memiliki tanggung jawab moral. Kita bukan hanya menyampaikan kabar, tetapi juga membentuk persepsi publik. Di bulan penuh berkah ini, mari kita perkuat komitmen pada kebenaran,” tegasnya.
Selain itu, GWI Tubaba juga mengajak seluruh jurnalis, khususnya di Kabupaten Tulang Bawang Barat, untuk mempererat silaturahmi lintas media. Persaingan dalam dunia pemberitaan, menurutnya, tidak boleh mengikis rasa persaudaraan. Ramadhan harus menjadi momentum memperkuat kebersamaan, saling memaafkan, dan membangun sinergi antarinsan pers.
Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, masyarakat dinilai membutuhkan karya jurnalistik yang mencerahkan, bukan yang memperkeruh suasana. Informasi yang akurat dan berimbang akan menjadi penyejuk di ruang publik, sementara pemberitaan yang sembrono berpotensi menimbulkan keresahan.
Ramadhan 1447 H pun diharapkan menjadi pengingat bahwa profesi jurnalis bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah untuk menjaga kepercayaan publik, merawat demokrasi, serta menyuarakan kepentingan masyarakat luas.
Dari Panaragan Jaya, pesan itu disampaikan dengan tegas: sambut Ramadhan dengan ketulusan, jalankan profesi dengan integritas, dan jadikan setiap karya jurnalistik sebagai ladang kebaikan. Karena pada akhirnya, bukan hanya berita yang tersaji hari ini yang akan diingat, melainkan jejak moral yang ditinggalkan untuk masa depan. (Spr/j)


