Suara Jelah dari Amir Hamzah : Seruan Moral UNUSIA
Spread the love

Lampungjaya.news, Jakarta – Ramai pernyataan dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) yang mengecam tindakan Presiden Jokowi Widodo dan sejumlah pejabat Negara yang ikut dalam kampanye pemenang salah satu Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden dalam Pemilihan Umum Tahun 2024.

Kali ini seruan moral datang dari Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta yang disampaikan melalui Sivitas Akademika UNUSIA “Suara Jelah dari Amir Hamzah”. Kamis, (08/02/2024).

“Didasari atas komitmen untuk merawat demokrasi, menegakkan nilai-nilai keadilan, serta urgensi menjaga kejernihan nalar publik dalam berbangsa dan bernegara Sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta menegaskan seruan moral sebagaiman terlampir” ungkap Sivitas Akademika UNUSIA.

Bismillahirrahmanirrahim,

Dinamika sosial politik yang terjadi menjelang perhelatan Pemilihan Presiden tahun 2024 menunjukkan berlangsungnya praktik penyimpangan, pengangkangan hukum dan pengabaian nilai-nilai moral dalam menjalankan roda pemerintahan serta menjauhkan diri dari nilai-nilai demokrasi.

Pengelolaan negara didominasi oleh corak kekuasaan (machstaat), bukan negara hukum (rechstaat) di mana hukum ditegakkan dengan baik dan benar, apalagi akhlak sosial. Akhir-akhir ini hukum cenderung digunakan sebagai alat politik dan kekuasaan, bukannya untuk membangun dan menjaga keadaban kehidupan bernegara.

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) telah melakukan upaya Hukum melalui permohonan pengujian Undang-Undang nomor: 141/PUU-XXI/2023 dan laporan dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku hakim konstitusi nomor: 2/MKMK/L/11/2023. Namun, upaya-upaya itu tidak membuahkan hasil.

Oleh karenanya, dengan didasari atas komitmen untuk merawat demokrasi, menegakkan nilai-nilai keadilan, serta urgensi menjaga kejernihan nalar publik dalam berbangsa dan bernegara, sivitas akademika Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta menegaskan seruan moral bahwa:

  1. Nabi Muhammad SAW. telah menegaskan pentingnya moralitas dalam kehidupan manusia, beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

“Sesungguhnya aku (Muhammad SAW.) diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak.” (HR. Ahmad)
Tindakan abai dan ketidakpedulian terhadap nilai moral dan prinsip demokrasi dengan jalan memanipulasi konstitusi adalah praktik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak laik dilakukan oleh siapa pun saja, termasuk penyelenggara negara;

  1. Sirnanya etika dalam berbangsa dan bernegara yang tercermin dalam sejumlah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme telah merusak sendi-sendi dasar kehidupan dan kemanusiaan;
  2. Menggesa Presiden sebagai kepala negara untuk menginstruksikan kepada jajaran bawahannya agar menghentikan kutukan terhadap seruan moral yang disampaikan oleh Perguruan Tinggi;
  3. Mendesak seluruh elemen yang berada di Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah untuk bersikap netral yang sesuai dengan amanat konstitusi dan nilai demokrasi, dan mengedepankan politik yang berakhlak. Keberpihakan Lembaga negara dan Lembaga pemerintah dalam kontestasi pemilihan umum merupakan bentuk kecurangan yang menciderai konstitusi, nilai-nilai demokrasi dan tidak dapat dibenarkan;
  4. Mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama-sama merawat nilai-nilai demokrasi sebagai bentuk implementasi cita-cita kemerdekaan dalam berbangsa dan bernegara;
  5. Mengajak seluruh kolega di lembaga pendidikan untuk bersama-sama menseriusi pendidikan moral dan etika. Bahwa tugas lembaga pendidikan bukan saja mengajar apalagi hanya mencetak buruh terampil. Tugas pendidikan ialah mengajar (ta’lim), mendidik (tarbiyah), dan mengembangkan manusia yang bermoral (ta’dib), karena tujuan pendidikan tidak lain ialah untuk membangun dan mengembangkan potensi rohani manusia (ulul albab).

Akhirnya, semoga kita selalu dikaruniai hati yang terang, pikiran yang jernih, dada yang lapang, dan senantiasa dalam lindungan-Nya.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamit Thariq. (*/Lj)